Malam menyediakan ruang untuk bermimpi, dan pagi selalu menyediakan ruang aktualisasinya.
Rabu, 26 Februari 2014
Selasa, 25 Februari 2014
Bukan Hangernya
Hei, bukan soal gaunnya, tapi "hanger"nya.
Katanya bukan soal bajunya, tapi orang yang memakainya, sebagus apapun bajunya kalo orang yang memakainya tak selaras dengan bajunya tetap saja kurang menarik. Justru beberapa orang cukup dengan gaun yang sederhana saja sudah anggun.
Anda boleh merefleksinya kemana saja, memantul kemana saja, orang disamping anda, atau anda sendiri.
Menepi pada Sepi
Menepi tak selamanya pada sepi, sepi pun tak selamanya di tepi.
Kadang sepi itu ada di tengah keramaian, bukan di tepi keramaian.
Pernahkah kau merasa terasing diantara hiruk pikuk manusia? Itulah sepi.
Dan pernakah kau mengambil jarak, dari keramaian, di sudut kumpulan manusia, bersama secangkir teh, dan temanmu yang setia mendengar dirimu mengoceh? Aku tak menyebutnya itu sepi.
Kawan Kopi (2)
Jumat, 21 Februari 2014
Kau yang Selalu Datang Membawa Gelisah
Nak (9)
Nak (8)
"Nak, jika kau sakit hati atau sedang membenci, belajarlah memaafkan. Pun kalu berat bagimu pada orang itu, cukup padamu saja. Sebab, benci itu hanya merusak dirimu, maka, demi kebaikan atas dirimu sendiri, sudahi saja."
Rabu, 19 Februari 2014
Nak (7)
"Nak, menangislah, jika menangis itu bisa membuatmu lebih kuat. Menangis itu bukan tanda kau lemah. Menangislah jika itu menyuburkan semangatmu. Sesekali menangis itu dibutuhkan anakku. Menangis itu tanda kau tidak sedang mati rasa."
Selasa, 18 Februari 2014
Nak (6)
"Nak, belajarlah pada matahari, tapi kau tak mesti jadi matahari, kalau jadi bulan pun cukup bagimu, yang ditakdirkan jadi matahari tidak akan jadi bulan, pun bulan tak akan jadi matahari, yang penting kau ingat adalah, dengan jadi matahari atau bulan, apa manfaat yang bisa kau beri."
Nak (5)
"Nak, kadang disaat kau butuh dukungan, justru tak ada orang yang sepakat denganmu. Kau bisa memilih dua hal, berhenti atau tetap melanjutkan. Pilih saja yang mana, tapi setelah kau tanya hatimu, kalau kau yakin, lanjutkan saja. Dukungan itu biasanya datang setelah pembuktian-pembuktian yang mengejutkan mereka."
Senin, 17 Februari 2014
Nak (4)
"Nak, tumbuhlah seperti pohon yang rindang, rawat rawatlah, agar mereka senang berteduh, selalu membagi udara segar, tapi jangan terlalu, sebab akan susah untuk berbuah, apa apa yang terlalu itu memang tidak elok anakku. Maka, cerdaslah kau menakar kewajaran."
Nak (3)
"Nak, setiap kita itu lahir dengan potensi masing-masing. Percayalah kau itu unik, punya potensi. Carilah, gali sedalam dalamnya, dirimu. Saat kau temukan itu, peliharalah agar ia tumbuh, mengakar kuat kuat, lalu ujungnya terus menembus langit, berbuah disana. Bisa jadi tak kau nikmati sekarang buahnya, tapi, nanti, di langit sana."
Nak (2)
"Nak, hidup itu bukan hanya urusan perut. Kadang memang, ada masa kau kerja berat tapi hasilnya ringan. Ringan bisa jadi memang ringan, atau karena timbanganmu hanya materi saja."
Nak (1)
"Nak, berusahalah berdiri, berjalan, berlari dengan kaki mu sendiri, sepayah apapun itu. Itu jauh lebih terhormat bagimu, daripada harus menumpang pada kaki orang lain."
Rabu, 12 Februari 2014
Lubang Kecil dalam Gelap (2)
Melanjutkan pembahasan kemarin, menunaikan janji pada sang guru.
Teringat waktu pelajaran biologi dulu. Praktikum sederhana, mengamati pertumbuhan kecambah kacang ijo yang dimasukkan dalam kotak yang pada satu sisinya diberi lubang kecil tempat masuknya cahaya, udara. Selang beberapa hari, dibukalah kotak itu, dan ternyata, pertumbuhan kecambah itu mengikuti arah datangnya cahaya. Ini proses alamiah yang biasa, tapi cukup buat kita belajar. Sejatinya kita selalu mencari sumber cahaya, menuju cahaya, itu sunnatullahnya. Laiknya harapan itu, realitas hidup kita seringkali berisi fakta yang menyakitkan, tapi kita yang memiliki harapan, selalu punya obat mujarab untuk itu.
Beginikah tafsirnya guru?
"Harapan ibarat sebuah lubang kecil dalam gelap. Tapi darinyalah cakrawala luas dan terang."
Selasa, 11 Februari 2014
Lubang Kecil dalam Gelap
Kutipan pagi ini, dari seorang guru "Harapan ibarat sebuah lubang kecil dalam gelap. Tapi darinyalah cakrawala luas dan terang."
Sebuah pesan dari "seorang guru" masuk di HP saya, memang saya yang minta, kata atau kalimat inspiratif. Meski tak sering, beberapa kali ia mengirimkan pesan yang membuat saya berpikir, kemudian mengambil sebuah kesimpulan, sebuah hikmah. Saya belajar, karena ia memang "seorang guru".
Baru kali ini ku tuliskan, karena telah ku janjikan, "Kirimkan aku kutipan inspiratif, untuk bahan tulisan." Dan, untuk kutipan ini, saya merenung lagi, sesaat. Menafsirkan maknanya, untuk memutuskan sepaktkah saya. Akhirnya saya bersepakat.
Soal tafsir saya, boleh nanti dikisahkan lagi.
Perlawanan Kopi
Untuk kedua kalinya, setelah peristiwa pertama yang sudah lama sekali. Pengalaman kopi. Nikmat tapi akhirnya harus menanggung oleng karena tak tidur dua mala satu hari. Meski untuk kedua kalinya lebih singkat, hanya tak tidur malamnya saja sampai besok jam tiga. Rasanya tak perlu tiga kali untuk menjauh dari kopi, meski pun juga tak berarti putus hubungan, sesekali mungkin tak mengapa.
Dua peristiwa ini sama muasalnya, dari rasa ngantuk yang harus dilawan. Dan senjata ampuh bagi saya untuk melawan kantuk adalah dengan kopi itu. Akhirnya memang menang, tapi kemenangan terhadap kantuk ini sungguh sebuah kekalahan pula bagi saya. Kopi, senjata makan tuan.
Ngantuk sesungguhnya adalah peristiwa alamiah tubuh kita, ngantuk pada umumnya berarti isyarat bahwa kita membutuhkan tidur. Disamping ia bisa pula berarti lelah, kurang stamina, atau bosan. Dan peristiwa alamiah ini harusnya disikapi secara arif, sebagaimana mestinya, alami, tanpa rekayasa kopi.
Saya menyadari kemudian, kebiasaan kebiasaan melawan alam itu akhirnya menjadi pukulan mematikan bagi kita. Alam tak bisa kita kalahkan, alam hanya bisa kita arifkan, kearifan alam. Begitu menurut Bang Idin. Seorang pengarif alam di jakarta yang pesannya saya dapatkan di majalah pesawat. Dan kearifan kita terhadap ngantuk itu yah tidur.
Sesuatu yang melawan kodrat itu, tidak menemui apa-apa kecuali kalah. Apapun bentuk kekalahannya.
Terimakasih kopi.
Minggu, 09 Februari 2014
Menulis
Saya menyukai menulis, seperti menyukai teh.
Saya menikmati menulis seperti menikmati senja.
Dan apakah tulisan saya itu disukai atau tidak, bukan sebuah masalah. Sebab menikmati menulis itu sudah cukup.
Bias Kata
Sebuah gambar bisa bercerita banyak hal, saya sepakat. Tapi tak selalu berarti ia bisa lebih banyak bercerita daripada banyak kata-kata. Bahkan satu kata bisa menjadi panjang maknanya, sebab bias kita menafsirkan.
Kira-Kira
Mimpi itu akan tetap menggantung di situ, di titik kira-kira. Sampai ia jadi nyata atau tetap jadi mimpi. Namun, titik kira-kira itulah justru harus menjadi pemicu, sebab meski tak ada kepastian berhasil, juga tak ada kepastian gagal.
Dari Status FB
Sudut Pandang
Ini sebenarnya tak seistimewa yang kita bicarakan.
Hanya saja, kita melihatnya dari sudut yang lain, dari titik yang tak lazim seperti kebanyakan orang.
Bukankah memang, sudut pandang itu menentukan visualisasi kita pada sebuah objek?
Maka, berlaku pula ini dalam kesedihan itu, bisa ia menjadi sesuatu yang melegakan, dari sudut pandang yang lain.
Dari Status FB
Sebuah Catatan
Sebenarnya tidak ada alasan untuk kecewa.
Kekurangan, tepatnya sebenarnya ujian.
Ia pun tak pernah menginginkannya,
maka jangan buat ia iri pada yang lain mengapa ia berbeda.
Ia butuh kau mengerti bukan kau sesali.
Aqz
Kerepotan Modernisasi
Saya boleh anda sebut kuno.
Tapi saya memang kadang risih dengan produk-produk modern yang ada.
Apatah lagi untuk menggunakannya saya harus mengorbankan kenyamanan saya yang sudah terbiasa dengan produk yang kuno.
Pernah sekali di toilet bandara Soeta, yang modern itu, kenyamanan saya benar-benar terganggu.
Saya sungguh tidak terbiasa dengan toilet yang serba otomatis, hanya dengan memutar keran, selang akan otomatis keluar dan menyemburkan air, tak ada bak air, apalagi gayungnya.
Saya selalu merasa nyaman dengan toilet yang biasa biasa saja, ada bak airnya, ada gayungnya, bukan serba otomatis.
Awalnya saya percaya bahwa barang-barang masa kini itu dibuat untuk memudahkan manusia, namun faktanya bagi saya tidak demikian, sebab, beradaptasi terhadap ketidaknyamanan pribadi itu bukanlah sesuatu yang mudah.
Modernisasi telah menunjukkan hasil efektifitas dan efisiensi kerja, tapi seringkali tak sukses dalam hal humanis.
Benda benda modern itu acap kali lahir tanpa membawa nilai, maka di tengah padatnya modernisasi, kita kekosongan nilai.
Bagi saya, nilai itu asasi, maka seharunya dalam modernisasi nilai itu selalu lahir bersama dengan lahirnya benda benda modern itu.
Modernisasi yang melupakan nilai benar benar akan menjadikan kerepotan kelak, betapa repotnya hidup tanpa nilai, sungguh.
Anomali Waktu
Pertemuan yang direncanakan sebentar itu tak kan pernah benar-benar singkat,
pasalnya waktu tak pernah cukup untuk mengakhiri cerita kita,
akhirnya sepanjang apapun waktu yang kita habiskan itu, selalu saja terasa lebih singkat.
Padahal waktu itu sama panjangnya yang kita pakai untuk menunggu lama pertemuan seperti ini.
Tapi itu pula mengapa, pertemuan ini selalu kita nikmati, tak pernah bosan pula.
Dan saat waktu harus mengakhiri,
hanya akan menegaskan betapa kita rindu pada pertemuan berikutnya.
Kalkulasi waktu yang kita ternyata relatif terhadap rasa. Terhadap apa yang kita rasai menarik, waktu akan terasa singkat. Dan terhadap apa yang kita rasai tidak menyenangkan, maka waktu yang singkat pun akan jadi sangat lama. Dan rasa terhadap waktu ini yang membuat para pejalan itu terus berjalan atau berhenti, atau malah mundur. Lelah karena ketidaksabaran terhadap waktu yang terasa panjang. Bagi yang menikmati perjalanan itu, waktu terasa singkat saja. Maka sebenarnya, kebosanan kebosanan kita itu, kelelahan kita yang panjang itu, bisa kita obati dengan merefleksi ini. Menikmati perjalanan, adalah alasan mengapa para pejalan itu tetap bugar ceria hingga di titik akhir.
