Rabu, 26 Februari 2014

Malam menyediakan ruang untuk bermimpi, dan pagi selalu menyediakan ruang aktualisasinya.

Selasa, 25 Februari 2014

Bukan Hangernya

Hei, bukan soal gaunnya, tapi "hanger"nya.
Katanya bukan soal bajunya, tapi orang yang memakainya, sebagus apapun bajunya kalo orang yang memakainya tak selaras dengan bajunya tetap saja kurang menarik. Justru beberapa orang cukup dengan gaun yang sederhana saja sudah anggun.
Anda boleh merefleksinya kemana saja, memantul kemana saja, orang disamping anda, atau anda sendiri.

Menepi pada Sepi

Menepi tak selamanya pada sepi, sepi pun tak selamanya di tepi. 
Kadang sepi itu ada di tengah keramaian, bukan di tepi keramaian.
Pernahkah kau merasa terasing diantara hiruk pikuk manusia? Itulah sepi.
Dan pernakah kau mengambil jarak, dari keramaian, di sudut kumpulan manusia, bersama secangkir teh, dan temanmu yang setia mendengar dirimu mengoceh? Aku tak menyebutnya itu sepi.

Kawan Kopi (2)

Hai, kemarin kau datang? Aku lupa, terlalu sibuk bercengkrama dengan hujan. Ia tiba-tiba saja datang, menembus loteng rumah dan menyelinap masuk ke ruang tamu. Sebelum aku keluar kamar, aku bermaksud menemui mu seperti apa yang telah kita sepakati, tapi hujan mencegat ku terlebih dahulu. Memaksaku bersibuk ria dengannya, obrolan kami akhirnya berujung setelah perjalanan ceritanya amat panjang, telah berganti tema berkali-kali. Ia semangat sekali bercerita, dan kau tahu, aku adalah orang yang akan penuh kesungguhan mendengar setiap orang yang bercerita. Kau lihatkan? Saking seirus ku, aku bahkan lupa kalau kita sudah sejanji untuk datang. Maafkan yah. Baiklah, akan ku beri kau sepotong cokelat sebagai tanda sesalku. Tapi maaf, kau pernah bilang kau alergi cokelat bukan? Begini saja, atur jadwalmu, nanti aku traktir teh atau kopi. Tapi jangan hari senin atau rabu, biasanya jadwal malasku pada hari itu. Dan jika jadwal malas itu muncul, aku akan memilih tidak melakukan apa-apa, termasuk meladeni hujan jika ia datang. Sepakat? Baiklah, terimaksih. Kau memang pengertian.
Bagaimana latihan mu untuk tidak gelisah lagi? Aku percaya kau mampu, sungguh. Aku lihat di garis wajahmu, meski tak kau ungkapkan aku sudah menebak. Pun, kau pasti akan malu jika tak mampu, iya kan? Kalau kau tadi bercermin seperti hari-hari sebelumnya, kau pasti akan kaget juga melihat perubahannya. Kau tahu, wajah mu itu selalu jujur mengungkapkan isi hatimu. Jadi hati-hati kalau kau punya rahasia yang tak boleh aku tahu. Sebaiknya kau memilih untuk tak menatapku. Aku bisa menebak dengan mudah. Hai, jangan mengelak, hidungmu membesar kalau kau bohong. Aku senang kalau kau jujur, apalagi kalau kau percaya aku adalah teman baikmu. Aku mau kita berjanji, untuk jujur pada diri kita sendiri. Jujur pada diri sendiri, kadangkala memang tak selalu mujur nampaknya. Karena seringkali kita akan dihadapkan pada pilihan yang menyulitkan. Dan jujur itu seringkali pula mengantarkan kita pada sesuatu yang tak menyenangkan. Sesuatu yang istimewa itu memang selalu berharga mahal, seperti meminta ketidaknyamanan, menempuh jalan yang sulit, dan kejujuran itu istimewa.
Kau tentu pernah mendengar kisah-kisah dongeng sang pangeran yang hendak menyelamatkan puteri harus berhadapan dengan nenek sihir. Kalau kau tanya alasan pangeran itu menempuh bahaya, jawabnya karena puteri itu istimewa. Kau tahu kan ceritanya? Pasti, kau ternyata lebih suka produk impor dari produk lokal. Jangan membantah. Kalau tidak ceritakan satu kisah yang kau tahu. Tidak? Baiklah, kau tahu rahasia dibalik prambanan? Percaya atau tidak, tapi legenda berkisah kalau itu adalah bentuk persembahan bagi seorang puteri dari pangeran yang hendak melamarnya. Meski ujungnya tak berakhir romantis, tapi yang penting kau dapati intinya. Bahwa sesuatu yang istimewa itu, memang harus dibayar mahal.

Baiklah, kalau kau sibuk, aku tak akan mengganggu lebih lama. Aku juga harus kembali, menyirami  bunga yang ku tanam hari rabu kemarin, dan memberi makan ikan yang kemarin ku beli. Kau pasti bertanya, bukankah hari rabu hari malasku? Hah, kau akan tahu mengapa, nanti saja aku ceritakan. Soal ikan itu juga nanti akan ku ceritakan. Cokelat ini ka bawa saja, jangan dimakan, aku tak mau kau alergi dan menyalahkan aku, beri adikmu saja, Re. Dia suka makan cokelat kan? Dan ingat, segera jadwalkan kapan, ku traktir teh atau kopi. Kau tahu, kadang aku amat pelit. Maklumlah, isi kantongku cepat sekali menipis. Tapi tenang saja, untuk acara itu, sudah ku pisahkan sendiri, kulipat kecil-kecil, ku selipakan di celah dompet yang kadang aku lupa kalau ada uang disitu.

Jumat, 21 Februari 2014

Kau yang Selalu Datang Membawa Gelisah

Hai, selamat malam. Kau datang lagi? Membawa apa? Setiap kali kau datang di beberapa hari lalu, selalu kau bawa gelisah, hari ini masihkah? Tak lekas juga habis gelisah itu kau bawa ya? Bisa ku pahami, ada memang, harapan kita yang tak pernah berpisah dari kepala kita. Sesekali jelas kita ingat, sesekali hanya sekelebat saja. Tapi, karena itulah pula, ditambah dengan ketidak pastiannya, harap-harap cemas, jadilah ia sebuah kegelisahan yang terus terbawa. Sampai sejauh harapan itu menemui keputusan.

Okelah, kau gelisah, wajar. Tapi tak mesti setiap gelisahmu kau tumpahkan disini. Karena itu mengusikku, sungguh, aku datang kesini, menikmati bebungaan, harumnya, rasanya tak sedap jika harus beradu dengan kegelisahan semacam kegelisahanmu itu.

Kau mau tau? Aku, dulu, juga sepertimu, tapi perlahan bisa ku atasi. Perbedaan kita pada cara mengatasi persamaan kita itu, gelisah. Aku lebih memilih untuk tidak gelisah. Itu saja. Kau pikir ini sederhana? Oh, tidak! Pikirkan saja olehmu, beratkah menurutmu dalam kegelisahan mu yang kalut itu, bisakah kau tenang? Susah bukan? Tapi susah itu tidak sama dengan tidak bisa. 

Kau hanya butuh sedikit berusaha, keluar dari ruang gelisahmu itu. Cukup. Tapi lagi, ini tak mudah. Tapi disitulah serunya, kau tahu, energi yang kau keluarkan untuk itu akan menyerap cadangan energi kegelisahanmu, perlahan energi kegelisahanmu itu berkurang, lalu habis. Tidak  benar-benar habis, karena energi kegelisahan dalam kadar yang normal itu dibutuhkan. Sebab jika takarannya pas, ia kan jadi energi pendorong yang cukup kuat. Memang, dibutuhkan kecerdasan lagi untuk soal ini. Tak ada teori bakunya, jadi tak usah ku jelaskan bagaimana. Karena pasti, akan sangat subjektif terhadap diriku sendiri. Tapi, kalau kau benar-benar butuh, boleh saja, semoga kau bisa membuatnya lebih objektif. Tapi bukan disini. Di kali lain pertemuan kita.

Galau dan gelisah itu samakah? Kalau menurutmu sama, berarti selamat, kau juga penggalau. Selamat, galau itu miliknya anak muda, yang sedang berproses untuk menjadi dewasa. Tidak tidak, bukan ku katakan kau tak dewasa, artinya kau harus menyadari, kau sedang berproses. Ini kesempatanmu. Galau itu ibarat kode, dengannya kira-kira kau akan sampai dimana. 

Dan seiring proses belajarmu itu, kau akan menemukan yang disebut dengan kedewasaan, nah disitlah kau mulai berpikir, lebih kuat untuk melawan, bukan melumpuhkan, tapi mengendalikan gelisah. Hebat bukan? Hebat karena perjalanannya tak mudah. Bagiku, sesuatu yang dikatakan hebat akhirnya itu adalah capaian yang melewati serangkaian ujian-ujian keras. Keras sampai kau hampir saja menyerah. 

Selamat berusaha. Kali lain kau datang, jangan bawa gelisah lagi. Sepakat.

Nak (9)

“Nak, ku ingatkan kau pada hal ini. Kadang sebuah diskusi pandangan itu berlangsug alot. Bisa jadi idemu tak disepakati, atau kau yang menolak ide orang lain. Dengarlah anakku, bahwa ketiadaan titik temu biasanya bukan karena tanpa solusi, tapi kau meletakkan pilihan-pilihan itu pada egomu. Jadi, belajarlah, letakkan pada tempat yang benar. Anakku, ini bukan soal siapa yang kalah, kau kalah atau mengalah, kau menang atau dimenangkan. Ini soal, seberapa besar manfaat dan sekecil apa mudharat dari pilihan-pilihan yang ada. Kalau kau mampu, kelak kau akan dapati dirimu senagai orang berjiwa besar, anakku. Dan orang yang besar jiwanya itulah orang besar anakku.”

Nak (8)

"Nak, jika kau sakit hati atau sedang membenci, belajarlah memaafkan. Pun kalu berat bagimu pada orang itu, cukup padamu saja. Sebab, benci itu hanya merusak dirimu, maka, demi kebaikan atas dirimu sendiri, sudahi saja."