Hai, selamat malam. Kau datang lagi? Membawa apa? Setiap
kali kau datang di beberapa hari lalu, selalu kau bawa gelisah, hari ini
masihkah? Tak lekas juga habis gelisah itu kau bawa ya? Bisa ku pahami, ada
memang, harapan kita yang tak pernah berpisah dari kepala kita. Sesekali jelas
kita ingat, sesekali hanya sekelebat saja. Tapi, karena itulah pula, ditambah
dengan ketidak pastiannya, harap-harap cemas, jadilah ia sebuah kegelisahan
yang terus terbawa. Sampai sejauh harapan itu menemui keputusan.
Okelah, kau gelisah, wajar. Tapi tak mesti setiap gelisahmu
kau tumpahkan disini. Karena itu mengusikku, sungguh, aku datang kesini,
menikmati bebungaan, harumnya, rasanya tak sedap jika harus beradu dengan
kegelisahan semacam kegelisahanmu itu.
Kau mau tau? Aku, dulu, juga sepertimu, tapi perlahan bisa
ku atasi. Perbedaan kita pada cara mengatasi persamaan kita itu, gelisah. Aku
lebih memilih untuk tidak gelisah. Itu saja. Kau pikir ini sederhana? Oh,
tidak! Pikirkan saja olehmu, beratkah menurutmu dalam kegelisahan mu yang kalut
itu, bisakah kau tenang? Susah bukan? Tapi susah itu tidak sama dengan tidak
bisa.
Kau hanya butuh sedikit berusaha, keluar dari ruang gelisahmu itu. Cukup.
Tapi lagi, ini tak mudah. Tapi disitulah serunya, kau tahu, energi yang kau
keluarkan untuk itu akan menyerap cadangan energi kegelisahanmu, perlahan
energi kegelisahanmu itu berkurang, lalu habis. Tidak benar-benar habis, karena energi kegelisahan
dalam kadar yang normal itu dibutuhkan. Sebab jika takarannya pas, ia kan jadi
energi pendorong yang cukup kuat. Memang, dibutuhkan kecerdasan lagi untuk soal
ini. Tak ada teori bakunya, jadi tak usah ku jelaskan bagaimana. Karena pasti,
akan sangat subjektif terhadap diriku sendiri. Tapi, kalau kau benar-benar
butuh, boleh saja, semoga kau bisa membuatnya lebih objektif. Tapi bukan
disini. Di kali lain pertemuan kita.
Galau dan gelisah itu samakah? Kalau menurutmu sama,
berarti selamat, kau juga penggalau. Selamat, galau itu miliknya anak muda,
yang sedang berproses untuk menjadi dewasa. Tidak tidak, bukan ku katakan kau
tak dewasa, artinya kau harus menyadari, kau sedang berproses. Ini
kesempatanmu. Galau itu ibarat kode, dengannya kira-kira kau akan sampai
dimana.
Dan seiring proses belajarmu itu, kau akan menemukan yang disebut
dengan kedewasaan, nah disitlah kau mulai berpikir, lebih kuat untuk melawan,
bukan melumpuhkan, tapi mengendalikan gelisah. Hebat bukan? Hebat karena
perjalanannya tak mudah. Bagiku, sesuatu yang dikatakan hebat akhirnya itu
adalah capaian yang melewati serangkaian ujian-ujian keras. Keras sampai kau
hampir saja menyerah.
Selamat berusaha. Kali lain kau datang, jangan bawa gelisah lagi. Sepakat.