Minggu, 24 November 2013

Teka Teki Silang

Hidup itu saling berhubungan, saling melengkapi satu dengan yang lain, tak perlu diselesaikan secarat urut, memulai dari mana kita bisa jawab.

Beberapa pertanyaan kadang terjawab sendiri ketika pertanyaan lain telah terjawab.
Ada pertanyaan kunci yang seringkali sulit, tapi setelah terpecahkan, maka mudahlah mengerjakan yang lain.

Dibalik, itu, butuh kecerdasan, keluasan wawasan kita untuk menjawab.

Begitulah kira-kira hidup.

Jumat, 22 November 2013

Kebakaran dan Tabiat Kita

Dari kecil kita diajarkan kalau pintu adalah tempat masuk sekaligus keluar yang resmi. Maka tak heran kalau kebakaran banyak orang terjebak dan berdesakan untuk keluar lewat pintu. Mengapa tak mencoba keluar lewat jendela, memecanhkan kaca, melompat turun? Kita tidak diajarkan bahwa pada situasi tertentu, pintu bukan merupakan tempat keluar satu satunya, atau jendela sebagai alternatif tempat keluar yang lain.
Kita terjebak pada pola yang terlalu formal, dan celakanya sering kali melupakan hal yang lebih asasi daripada sekadar formalitas belaka. para guru, dosen mengajar hanya sebagai sebuah formalitas, akan mengesampingkan sebuah makna besar sebuah proses pendidikan. karyawan juga begitu, bekerja hanya sebatas tugas atau target, lupa bahwa mungkin mereka bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih baik dan menjadikan mereka luar biasa.

Rabu, 20 November 2013

Seperti biasa, saat hari masih setengah badan

Secangkir kopi dingin, ku teguk, disusul pisang goreng kaku.
hari ini jauh berbeda, 
Maafkan aku terlambat, 
harusnya saat waktu buta aku membengunkanmu, 
menemani mu mengambil wudhu dan menjadi imammu.
Maafkan aku tanganmu berdarah, 
memotong pisang untuk sajian pagiku.
Pekan depan, mungkin sudah ada bolam menggantung, aku benci gelap
Maafkan aku, 
seharusnya pagi ini kau dapat makan ikan bakar dan sayur hijau,
Sampaikan pula ada si kucing, pagi ini taka da makanan yang bisa di bagi.
Maafkan aku harusnya ada kejutan,
Selimut biru yang ku beli di pinggir pasar 
harus ku berikan pada anak mungil di emperan toko pak Dodi
Ah. . . .!
Harusnya aku tak perlu minta maaf lagi.
Karena dalam matamu, sudah ku tahu jawabmu.
Harusnya ku berterima kasih saja. . . .
Terimakasih.
Terimakasih karena kau pahami semua.
Semoga subuh besok kita bisa bangun lebih awal.
Aku mau berdo pada-Nya.
Ada satu hal yang ingin aku minta, juga mau berterima kasih.
Kesederhanaan yang menggerakkan

Senin, 18 November 2013

Refleksi: Tentang Mimpi, dan Doa kita pada-Nya untuknya

Kita bercerita, tentang mimpi dan harapan yan g terpendam, tetang sesuatu yang menghapus leleah dalam bagian hidup kita.
Kau bercerita, tentang sesuatu yang mememnuhi dada dan kepalamu. Berapi-api, sepertinya tak ada lagi tempat untuksesuatu yang lain. Ia sesak dalam dirimu.
Kau bercerita tentang mimpimu. Tentang ambisimu, tentang inginmu. Semua tentang dirimu.
Dia bercerita, tak ubahnya seperti dirimu, semangatnya membuat mukanya memerah, seakan telah terbakar sesuatu yang ia agungkan.
Dan, Aku pun bercerita, dan aku berdoa, sebagimana kalian telah bercerita dan berdoa. Tapi Aku berbeda, aku hanya berharap, kelak ada Aku dengan tangan, lidah, kepala, dan hati yang Tuhan titipkan dalam setiap kesuksesan kalian.
Dan Kita berdoa, dalam besarnya mimpi kalian dan Sederhananya inginku, ada kebesran-Nya yang selalu menyertai.

Semoga kita mampu memahami, sederhana yang sebenarnya.

Sabtu, 16 November 2013

Ketenangan

Aku mencari ketenangan
Pada sebuah senda gurau
Tapi keterlenaan membuatnya ia hilang
Aku mencari ketenangan
Pada ruang kosong tanpa suara
Aku bebas, semauku saja, tiada terusik bisik
Tapi ia bukan ketenangan, ia gelap yang sunyi
Aku mencari ketenganku temui ia pada suatu jiwa yang lapang
Aku mencari ia jauh, ternyata ia begitu dekat.

Kamis, 14 November 2013

Surat

Refleksi: Sepucuk Surat untuk ia yang Dijiwa. 

Ku dengar ia akan kembali pada apa yang dulu ia janjikan kemudian tinggalkan. Akhirnya ia sadar juga setelah ku puas memakinya seperti emak memarahi anaknya lantaran menolak membeli terasi di warung ujung gang. Entah jampi apa yang berhasil menghilangkan sihir dari ubun-ubunnya. Mungkin sebuah doa dari orang-orang yang ia lupakan. Kami terlupakan dan kami menyayangi.
Ku dengar kalau kesungguhan telah menegakkan punggungya. Beban dosa terlalu membuat dirinya bungkuk. Bungkuk hingga hampir saja kepalanya tersungkur jatuh dalam lubang. Lubang hitam siap menerkamnya dan menguburnya hidup-hidup. hidup dalam ketiadaan, tiada cahaya yang ada hanya gelap dan perangkap yang memenuhi setiap jengkal lubang setan itu.
Ku dengar setiap paginya ia menangis kalau-kalau saja tadi malam ia melewatkan sebuah jamuan penting. Bukan memenuhi urusan dari sejengkal badannya. Tuhan datang menemuinya tapi ia tidur seperti mati. Hingga waktu berlalu dan ia melihat Tuhan menjauhinya. Maka ditemuilah paginya dengan sebingkisan kata, "Kau lalai".
ku dengar selepas sesalnya ia berbisik-bisik. Tak jelas apa yang ia bisikkan. Mungkin ia mengadu pada malaikat di sampingnya tentang ampunan yang mungkin masih ada. Atau ia bercerita pada setan di belakangnya tentang masa lalu yang mungkin ia rindukan. Ia bimbang dan harus memilih. Ia harus jadi malaikat atau setan.
Ku dengar malaikat itu tertawa, senyumnya terlihat manis. Sebuah putusan yang menguntungkan dirinya. Akhirnya manusia ini meniggalkan setan yang membuntuti. Di biarkan saja hingga lelah dan habis tak bersisa. Apakh malaikat bisa membawa manusia jadi sempurna?
Ku dengar sebelum tidurnya untuk malam yang kedua ia berjanji. Tak ada kesalahan yang terulang dua kali kecuali jika ia sebenar-benarnya lalai. Tidurnya tak nyenyak, tapak nyamuk pun membangunkannya, sepertiga malam penuh cinta datang jua pada akhirnya.
Ku dengar ia mengadu tentang masa lalunya yang suram buram. dan berkacalah matanya saat Tuhan datang menemuinya dengan ampunan dan cinta-Nya. Maka jadilah ia jiwa yang berbahagia dalam haru biru malam yang sepertiga.
Ku dengar ia berjanji. Dirinya berterimakasih pada Tuhannya, dan mulai saat ini ia kembali. Kembali pada jazad manusia yang merindu pada Tuhannya. Tuhan aku rindu.

Selasa, 12 November 2013

Selangkangan

Kau lelah, seperti lelahnya badan mereka terbakar
Tersisa hanya bekas dirmu yang kekar
Habis. tergerus dagingmu dari terbitnya fajar
Tumbal bagi sejengkal perut yang lapar
Kau menangis, keringat itu adalah air mata
Sebuah penegasan. Bukti cinta itu air mata

Selangkangan
Berterimakasihlah pada bulan
Ujung hari ini segera datang
Ketika air mata kering, kau akan menemui cinta pada malam
Bukankah letih yang ia bawa juga bukti sayang?
Letih. Nikmati ia dengan cahaya yang tamaram
Selagi rembulan tak padam

Selangkangan,
Padamnya bulan adalah pertanda
Masihkah cinta tetap terpelihara?
Ketika keriput datang jua
Habislah dirimu yang dulu kekar
Apa lagi yang bisa menunjukkan cinta?

Minggu, 10 November 2013

Tertawalah!

Mari ajari anak-anak kita tertawa
Agar mereka bisa menikmati hidup.
Ajarkan mereka tertawa
Agar mereka mengerti betapa pantasnya rupa zaman ini ditertawakan
Ajarkan mereka tertawa pada pemimpin negerio ini.
Agar mereka memahami lucunya parodi "Atas Nama Rakyat"
Ajarkan mereka tertawa
Mereka harus tertawa sebab sudah lama generasi tak bersenadung
Muka murung karena nasib murung
Langit mendung dan bencana merundung
Kita tersandung dan jatuh ke relung
Negeri ini terpasung, tapi mengapa kita mematung?

Jumat, 08 November 2013

Tentang Wanita

Ku ceriatakan padamu tentang wajah yang menyejukkan
Garis urat wajahnya seperti tertulis kata cinta
Makanya aku tak jemuketika menatapnya
Lihatlah senyumnya, meneduhkan teman,
Teduh tapi menguatkan
Suatu ketika ku melihatnya pipinya basah, pasti ada sesuatu
Tapi ia enggan bercerita, hanya tampak ketulusan 
Dan kau tahu, kawan?
Ketika ia berkata dia mencintaiku, serasa akan kuserahkan semua apa yang kupunya saat ini
Ku balas saja, "Akan ku lakukan apa saja yang kau pinta semampuku".
Tapi ia membalas, "Cukup kau jadi baik untuk orang di dekat dekapmu".
teman, aku lupa mengenalkan dia.
Dia Ibuku. . . . . . .

Rabu, 06 November 2013

Tak Tik Tuk Dag Dig Dug

Mata dunia dan mata yang bersaksi
Bukankah kita sama-sama tau?
Kalau ada sesuatu yang berbeda disini?
Atau kita mungkin telah tersihir?
Ia terlalu merayu.
zaman ini terlalu menggoda untuk kita yang lemah iman.
Atau mungkin kita suka dan telah jatuh cinta?
Mata Dunia dan yang Bersaksi.
Kita memang hanya bisa melihat,
Tapi kita bisa berpasan pada lidah, tangan, kaki
Atau pada siapa saja uang masih sadar.
Karena mungkin kita mereka juga sudah gila.
Kalau iya, saman ini mari kita nikmati
Atau, mungkin kiita akan memilih mati

Senin, 04 November 2013

Sepotong Roti

Kisah sepotong roti
Ketika hasrat memang harus terpenuhi
Ia merayu setulus hati
Begharap secangkir teh sudi menemani
Bukankah sebuah nikamat bisa bertemu pagi
Ia datang membawa harapan bagi pemimpi

Kisah sepotong roti
Ketika pagi tak lagi bisa dilukiskan dengan secangkir kopi
Ia memohon setengah mati
Hendaklah dikau nikmati
Sepotong roti dan secangkir kopi

Mentari ini indah untuk kita resapi
Asal kita bisa memahami
Begitu indah nikmat tuhan pada sepotong roti

Sabtu, 02 November 2013

Kelak

Awalnya tak ada toleransi pada sesuatu yang datang yang menurut kita aneh dan entah dari mana ia datang tiba-tiba saja ia menjelma dan nampak begitu bersahabat
Kita mulai curiga jangan-jangan ia menginginkan sesyatu dari kita lalu merampasnya dan membawanya jau hilang dari genggaman kita dan tak mungkin kembali
Ketakutan itu terus menghantui hingga setiap langkah kita terpenuhi bayang bayang dan terombang-ambinglah kita pada prasangka yang tak kunjung pergi
Terlalu angkuhnya diri kita membuat semua begitu sulit untuk kita terima meski mungkin padanya ada sesuatu yang begitu kita butuhkan
Begitulah mungkin ketika sesuatu yang kita sebut itu cinta datang kita masih saja menutup diri dan bergemul
Sebelum akhirnya kita memahami bahwa angkuhnya diri kita telah nyata memenjarai diri sendiri
Maka jika waktu masih ada tersisa semoga Tuhan masih memberi kita waktu
Waktu untuk kita menerima memahami dan menyukuri
Kelak, jika keangkuhan tak lagi jadi selimut
Kita akan menjumpai nuansa yang berbeda
Diri yang lebih bersyukur

Jumat, 01 November 2013

Halte

Salam Selamat Pagi!

Aku harus bergegas!
Ada sesuatu di halte!
dari tadi malam ia memanggil, aku terusik.
Sepertinya ada hal penting,
Sabarlah, karena kau harus terlihat rapi
Lima menit lagi aku sampai, selang sepuluh menit sebelum ia datang.
Butuh waktu mengumpulkan keberanian untuk sekali saja menatapnya
Meski, mungkin ia tak tahu dan tak peduli.
Aku mengagumi, titik!
Maka, izinkan sekali saja, mungkin yang terakhir,
Keculai jika ia sudah takdir.
Setelah ini aku berjanji,
Kisah haltr ini tak akan lagi.

Sudah mestinya niat di luruskan. . . .