Hai,
kemarin kau datang? Aku lupa, terlalu sibuk bercengkrama dengan hujan. Ia
tiba-tiba saja datang, menembus loteng rumah dan menyelinap masuk ke ruang
tamu. Sebelum aku keluar kamar, aku bermaksud menemui mu seperti apa yang telah
kita sepakati, tapi hujan mencegat ku terlebih dahulu. Memaksaku bersibuk ria
dengannya, obrolan kami akhirnya berujung setelah perjalanan ceritanya amat
panjang, telah berganti tema berkali-kali. Ia semangat sekali bercerita, dan kau
tahu, aku adalah orang yang akan penuh kesungguhan mendengar setiap orang yang
bercerita. Kau lihatkan? Saking seirus ku, aku bahkan lupa kalau kita sudah
sejanji untuk datang. Maafkan yah. Baiklah, akan ku beri kau sepotong cokelat sebagai
tanda sesalku. Tapi maaf, kau pernah bilang kau alergi cokelat bukan? Begini
saja, atur jadwalmu, nanti aku traktir teh atau kopi. Tapi jangan hari senin
atau rabu, biasanya jadwal malasku pada hari itu. Dan jika jadwal malas itu
muncul, aku akan memilih tidak melakukan apa-apa, termasuk meladeni hujan jika
ia datang. Sepakat? Baiklah, terimaksih. Kau memang pengertian.
Bagaimana
latihan mu untuk tidak gelisah lagi? Aku percaya kau mampu, sungguh. Aku lihat
di garis wajahmu, meski tak kau ungkapkan aku sudah menebak. Pun, kau pasti
akan malu jika tak mampu, iya kan? Kalau kau tadi bercermin seperti hari-hari
sebelumnya, kau pasti akan kaget juga melihat perubahannya. Kau tahu, wajah mu
itu selalu jujur mengungkapkan isi hatimu. Jadi hati-hati kalau kau punya
rahasia yang tak boleh aku tahu. Sebaiknya kau memilih untuk tak menatapku. Aku
bisa menebak dengan mudah. Hai, jangan mengelak, hidungmu membesar kalau kau
bohong. Aku senang kalau kau jujur, apalagi kalau kau percaya aku adalah teman
baikmu. Aku mau kita berjanji, untuk jujur pada diri kita sendiri. Jujur pada
diri sendiri, kadangkala memang tak selalu mujur nampaknya. Karena seringkali
kita akan dihadapkan pada pilihan yang menyulitkan. Dan jujur itu seringkali
pula mengantarkan kita pada sesuatu yang tak menyenangkan. Sesuatu yang
istimewa itu memang selalu berharga mahal, seperti meminta ketidaknyamanan,
menempuh jalan yang sulit, dan kejujuran itu istimewa.
Kau
tentu pernah mendengar kisah-kisah dongeng sang pangeran yang hendak
menyelamatkan puteri harus berhadapan dengan nenek sihir. Kalau kau tanya alasan
pangeran itu menempuh bahaya, jawabnya karena puteri itu istimewa. Kau tahu kan
ceritanya? Pasti, kau ternyata lebih suka produk impor dari produk lokal.
Jangan membantah. Kalau tidak ceritakan satu kisah yang kau tahu. Tidak?
Baiklah, kau tahu rahasia dibalik prambanan? Percaya atau tidak, tapi legenda
berkisah kalau itu adalah bentuk persembahan bagi seorang puteri dari pangeran
yang hendak melamarnya. Meski ujungnya tak berakhir romantis, tapi yang penting
kau dapati intinya. Bahwa sesuatu yang istimewa itu, memang harus dibayar
mahal.
Baiklah,
kalau kau sibuk, aku tak akan mengganggu lebih lama. Aku juga harus kembali,
menyirami bunga yang ku tanam hari rabu
kemarin, dan memberi makan ikan yang kemarin ku beli. Kau pasti bertanya,
bukankah hari rabu hari malasku? Hah, kau akan tahu mengapa, nanti saja aku
ceritakan. Soal ikan itu juga nanti akan ku ceritakan. Cokelat ini ka bawa
saja, jangan dimakan, aku tak mau kau alergi dan menyalahkan aku, beri adikmu
saja, Re. Dia suka makan cokelat kan? Dan ingat, segera jadwalkan kapan, ku
traktir teh atau kopi. Kau tahu, kadang aku amat pelit. Maklumlah, isi
kantongku cepat sekali menipis. Tapi tenang saja, untuk acara itu, sudah ku pisahkan
sendiri, kulipat kecil-kecil, ku selipakan di celah dompet yang kadang aku lupa
kalau ada uang disitu.