Selasa, 25 Februari 2014

Kawan Kopi (2)

Hai, kemarin kau datang? Aku lupa, terlalu sibuk bercengkrama dengan hujan. Ia tiba-tiba saja datang, menembus loteng rumah dan menyelinap masuk ke ruang tamu. Sebelum aku keluar kamar, aku bermaksud menemui mu seperti apa yang telah kita sepakati, tapi hujan mencegat ku terlebih dahulu. Memaksaku bersibuk ria dengannya, obrolan kami akhirnya berujung setelah perjalanan ceritanya amat panjang, telah berganti tema berkali-kali. Ia semangat sekali bercerita, dan kau tahu, aku adalah orang yang akan penuh kesungguhan mendengar setiap orang yang bercerita. Kau lihatkan? Saking seirus ku, aku bahkan lupa kalau kita sudah sejanji untuk datang. Maafkan yah. Baiklah, akan ku beri kau sepotong cokelat sebagai tanda sesalku. Tapi maaf, kau pernah bilang kau alergi cokelat bukan? Begini saja, atur jadwalmu, nanti aku traktir teh atau kopi. Tapi jangan hari senin atau rabu, biasanya jadwal malasku pada hari itu. Dan jika jadwal malas itu muncul, aku akan memilih tidak melakukan apa-apa, termasuk meladeni hujan jika ia datang. Sepakat? Baiklah, terimaksih. Kau memang pengertian.
Bagaimana latihan mu untuk tidak gelisah lagi? Aku percaya kau mampu, sungguh. Aku lihat di garis wajahmu, meski tak kau ungkapkan aku sudah menebak. Pun, kau pasti akan malu jika tak mampu, iya kan? Kalau kau tadi bercermin seperti hari-hari sebelumnya, kau pasti akan kaget juga melihat perubahannya. Kau tahu, wajah mu itu selalu jujur mengungkapkan isi hatimu. Jadi hati-hati kalau kau punya rahasia yang tak boleh aku tahu. Sebaiknya kau memilih untuk tak menatapku. Aku bisa menebak dengan mudah. Hai, jangan mengelak, hidungmu membesar kalau kau bohong. Aku senang kalau kau jujur, apalagi kalau kau percaya aku adalah teman baikmu. Aku mau kita berjanji, untuk jujur pada diri kita sendiri. Jujur pada diri sendiri, kadangkala memang tak selalu mujur nampaknya. Karena seringkali kita akan dihadapkan pada pilihan yang menyulitkan. Dan jujur itu seringkali pula mengantarkan kita pada sesuatu yang tak menyenangkan. Sesuatu yang istimewa itu memang selalu berharga mahal, seperti meminta ketidaknyamanan, menempuh jalan yang sulit, dan kejujuran itu istimewa.
Kau tentu pernah mendengar kisah-kisah dongeng sang pangeran yang hendak menyelamatkan puteri harus berhadapan dengan nenek sihir. Kalau kau tanya alasan pangeran itu menempuh bahaya, jawabnya karena puteri itu istimewa. Kau tahu kan ceritanya? Pasti, kau ternyata lebih suka produk impor dari produk lokal. Jangan membantah. Kalau tidak ceritakan satu kisah yang kau tahu. Tidak? Baiklah, kau tahu rahasia dibalik prambanan? Percaya atau tidak, tapi legenda berkisah kalau itu adalah bentuk persembahan bagi seorang puteri dari pangeran yang hendak melamarnya. Meski ujungnya tak berakhir romantis, tapi yang penting kau dapati intinya. Bahwa sesuatu yang istimewa itu, memang harus dibayar mahal.

Baiklah, kalau kau sibuk, aku tak akan mengganggu lebih lama. Aku juga harus kembali, menyirami  bunga yang ku tanam hari rabu kemarin, dan memberi makan ikan yang kemarin ku beli. Kau pasti bertanya, bukankah hari rabu hari malasku? Hah, kau akan tahu mengapa, nanti saja aku ceritakan. Soal ikan itu juga nanti akan ku ceritakan. Cokelat ini ka bawa saja, jangan dimakan, aku tak mau kau alergi dan menyalahkan aku, beri adikmu saja, Re. Dia suka makan cokelat kan? Dan ingat, segera jadwalkan kapan, ku traktir teh atau kopi. Kau tahu, kadang aku amat pelit. Maklumlah, isi kantongku cepat sekali menipis. Tapi tenang saja, untuk acara itu, sudah ku pisahkan sendiri, kulipat kecil-kecil, ku selipakan di celah dompet yang kadang aku lupa kalau ada uang disitu.