Mari kita mulai, sesaat sebelum nanti kita akan memutuskan untuk melanjutkan atau berhenti atau mungkin juga pulang tanpa membawa tanda mata apapun sebagai bukti bahwa kita memang pantas untuk diberi penghargaan
Satu langkah pertama yang akan menentukan, apakah kita bisa melangkah yang ke dua kalinya untuk membuat jejak-jejak baru yang entah sampai kapan ia akan berakhir seiring dengan habisnya pasir waktu
Kita mungkin sudah terlalu lama menyadir bahwa kita seharusnya melangkah namun mungkin tak juga mampu menggerakkan kaki malas yang terus saja mematung tanpa daya karena kita telah diperdaya dengan iming-iming yang tak pasti tentang sebuah negeri dimana kita bisa mendapatkan segalanya tanpa harus ada perjuangan
Atau mungkin dari sebagian kecil dari kita sudah mulai tergerak untuk satu kali melangkah namun kembali terhenti karena telah hilang arah kemana yang akan kita tuju
Apakah kita benar-benar telah hilang dalam langkah pertama yang kita mulai ataukah sebenarnya Tuhan memerintahkan kita melangkah untuk langkah kedua ketiga dan seterusnya coba tanyakan pada hati kita jika ia masih hidup
Ataukah diantara kita uang raganya hidup meninggalkan hatinya dalam kematian sehingga kita benar-benar akan kehilangan cahaya untuk kita pakai sebagai penerang jika masih ada tenaga untuk langkah selanjutnya
Kita mungkin terlalu dalam menancapkan kaki bahkan hampir seluruh tubuh kita dalam kubangan fatamorgana yang membelenggu jiwa sehingga buaiannya yang melenakan membuat kita jadi pasangan mesra dengan ketiadaan paham bahwa kita telah teramat sadis dengan waktu
Betapa tidak kita membiarkannya habis tergerus dan tenggelam bersama dengan hilangnya setiap kesempatan yang pernah ada dan tinggallah kita dalam kesia-siaan yang membelenggu
Anehnya dalam belenggu yang mencekik kita masih bisa tersenyum seakan ia tak berniat membunuh tapi hanya sekadar mendekap sehingga kita merasa dalam kehangatan yang menjanjikan kehidupan
Apapun nanti yang akan terjadi mungkin sebagian besar dari kita akan menyalahka Tuhan dan mungkin hanya sebagian dari kita hanya meratap sementara sebagian lain menikmati jamuannya.
Rabu, 30 Oktober 2013
Mulai Saja
Senin, 28 Oktober 2013
Hidup, Aku dan Mereka
Sore, sedikit masih tersisa siang yang hangat. Hujan tadi membuatnya lebih romantis, penantian matahari terbenam yang menyenangkan. Waktu yang panjang, hingga malam datang, memberi ruang pada memori yang memaksa. Ah, sebuah kenangan tersisa, patut untuk dikenang sebagai pemanis senja yang memang sudah cantik. Raut wajah tempo lalu, ketika malu seringkali menghinggapi, sebuah cerita klasik remaja tak berjati diri.
Pantai. Kenapa selalu pantai latar sebuah cerita lalu yang menyenangkan? Aku protes pada ombak yang selalu menjadi kiasan cerita yang mendayu-dayu. Kata mereka ia berdesir, mejilati kaki, memanja, dan mengantarkan pada roman cinta yang manja. Ah, mereka terlalu cengeng, terbuai rayuanmu yang klise. Aku ingin mengatakan padamu, "Aku benci, pesonamu mengalahkan nelayan yang penuh cinta," tapi ku tahu mereka dan kau pasti tak mengerti. Makna cinta yang membentangkan layar perahu mereka. Maka, cukup dengarlah ketika aku bercerita.
Aku. Merindu pada sesosok yang juga tak ku kenal lagi. Telah terlalu lama ia menghilang, entah apakah ia ditelan lembah atau hanyut oleh laut yang membuatmu tetap ada untuk mereka yang memanja. Ombak, aku bercerita padamu. Suatu saat jika mereka datang hendak merasakan usapan mu, ceritakan juga pada mereka. Setelah itu, tinggalkan saja, wajah sepolosmu tak layak berada di kaki mereka. Temani aku saja mencari diri sosok itu.
Dia. Sosok yang ku yakini juga masih merindu. Seperti rindu yang kau rasakan. Aku tahu kau merindu pada hijaunya daratan diseberang sana, atau tebing batu yang mungkin juga ada. Sama besarnya rinduku. Suatu saat kita akan beranjak bersama, meninggalkan pasir putih disini. Ia sama sekali tak menjanjikan sebuah kisah yang manis. Pernah ku tulis rindu pada badan putihnya, tapi habis juga tersapu. Entah ia yang tak setia atau engkau yang serakah untuk menampung setiap cerita manusia perindu sepertiku. Ah, kau, mereka, pasir, dia memang gila. Atau akukah yang gila karena memaki?
Kau. Sulit untuk ku pahami, pesona yang kau tebarkan. Mengapa mereka selalu menemuimu dalam setiap sesi perasaan mereka. Ketika senang mereka datang, ketika sedih mereka pun bertandang. Sekadar merasakan belaianmu, atau melemparimu sebagai buah kekesalan. Aneh, sementara dirimu jemu menerima mereka, aku justru jemu tak satupun datang menemui. Realita hidup kita berbeda. Kadang ku ingin saja sepertimu. Tanpa harus banyak tahu alasan aku disini. Seperti dirimu ternyata menarik, jika mereka datang kau menyambut, mereka pergi kau tak cemberut. Ah, kau ombak dan aku bukan, dimensi dunia yang berbeda membuat dunia kita berwarna. Jika nanti titipan dalam jasad ini telah diambil, sudilah dirimu melumatku dan mengubahku jadi pasir. Kita menciptakan dialektika kehidupan yang semakin menarik.
Senja. Akhirnya mampir juga pada perbincangan kita. Entah sihir apa yang ia pakai, matahari yang siang tadi begitu congkak, berhasil ia tundukkan. tunduk berlutut di ujung langit, suatu garis yang memisahkan dua pasang cerita, langit dan bumi. Ia semakin nakal, menggoda cerita yang memang sudah kian memesona. Ternyata dari tadi ia menguping pembicaraan kita. Jika ia masih mendengar, aku ingin menitipkan cerita ini untuk sosok di seberang sana. Bukankah menjadi sebuah cerita yang lebih manis jika nanti, aku, kau, sosok itu, dan dirinya, suatu hari nanti duduk dalam pangkuan bumi dalam satu jamuan istimewa. Ah, manis itu akan terasa jua pada akhirnya, harusnya kau yakin seperti yakinnya diriku.
Matahari. Sepotong badannya telah hilang, senja berhasil membuatnya tengelam dalam pesona malam yang sebentar lagi datang. Kisahnya akan berlanjut pada rupa bulan yang bersinar samar-samar. Hari ini merelakannya pergi, ketika waktu harus memutuskan bahwa setiap kisah hari ini, harus menunggu kepastian hingga esok. Boleh jadi akhir cerita akan berbeda. Meski rupanya sama, matahari esok tak akan membawa sesuatu yang sama dengan hari ini. Maka, sebelum akhirnya ia sempurna dalam pelukan malam, selagi masih tersisa setengah badannya, akan ku tunutaskan obrolan kita kali ini.
Adzan. Hilanglah wajah manis matahari, tenggelam di bibir laut yang menelannya dalam-dalam. Semoga esok ia masih bisa lahir kembali, pada sisi yang berbeda di laut sebelah sana. Kau, maafkan aku, sejenak aku harus beranjak, Tuhan ku memanggil, bukti cinta ku dipertaruhkan kali ini. Jika Ceita ini belum tuntas, berdoalah juga, moga lepas isya aku bisa kembali. Waktu hidupku dan hidupmu ada ditangan-Nya.
Malam. Janji senja tak terpenuhi, kau harusnya menagih. Aku ingin melanjutkan penggalan kisah yang tersisa. Tentang sosok disana, dan pasir yang membuatmu bosan, atau wajah lain yang menunggu kita di sebelah laut ini. Bulan itu tak kunjung datang, kabarnya malam ini ia terlambat. Menunggu, masih merayu matahari sudi berbagi sedikit cahaya yang redup. Redup tapi cantik. Karena ternyata cantik itu tak perlu terang. Ah, kuharap kau mengerti tentang obrolan yang melayang makna ini.
Bulan. akhirnya kau datang juga setelah mebuat kami bimbang, sejenak rasa percayaku menghilang. Kini kau harus berjanji, menemani ku hingga aku benar-benar terlelap dalam dekapan malam. Dalam mimpi yang mengantarkanku ke sosok yang membuat aku tak sabar. Berbahagialah kau dengan satu bintang sahabatmu. Moga ia tetap manis di dekatmu hingga pagi esok menelan kisahmu. Sampaikan salam ku jika ku tak sempat meneminya dalam kata.
Kita. Hidup ini telah begitu berwarna. Jika pada akhirnya ia harus pudar, aku berharap kita telah menemukan kerinduan yang kita miliki. Agar, aku dan kalian semua tak mati dalam perinduan. Bagaimanapun aku harus ke seberang sana, untuk mengukir makna yang tak kan hilang.
Kalian. Tidakkah untuk terakhir kalinya, sebelum esok mencuri kebersamaan kita, atau sebelum takdir Tuhan dijatuhkan kepada kita, patutnya kita berdoa. Tuhan kita Maha Penyayang, Maha Mendengar, semoga mereka yang membaca kisah ini dapat memaknai dan memberi makna pada kehidupan.
semoga kalian dapat memaknai Hidup, Aku dan Mereka.
Minggu, 27 Oktober 2013
Cacatan Malam
Ada hal dalam diri kita, atau perilaku kita yang mudah sekali membuat orang lain memberi penilaian terhadap diri kita. Seperti dahsyatnya media membentuk opini massa.Pada titik tertentu, kita akan mulai mengoreksi, mencari titik temu antara kita dan mudahnya orang lain memberi penilaian.Saat kita mulai berubah, celakanya persepsi mereka tetap begitu.Saat itu pula akhirnya kta harus sadar. Kita berubah bukan untuk mereka, tapi untuk kita sendiri.
Hujan
Hujan datanglah menyemai. . . .
Hujan datanglah menyemai, basahi rindu pada setiap helai-helai.
Kering, ia terkualai,
Penatiannya sedari dulu ia mulai,
Sudikah engkau datang membelai?
Ketika malam datang mengusik,
Datangkah butiran keping bening berbisisk?
Sebagai pertanda esok atau sebentar lagi, kau kan datang, disini
Untuk kita bersama bersemi. . . .
Sabtu, 26 Oktober 2013
Otak Atik
Otak atik rak,
katakan serenatak!
Biar rak porak porak
Biarkan isinya berserak serak atau koyak koyak
Kalau rusak harus kita permak
Bolak balik rak
rak di bolak bolak
Semua isi harus baik
Kalau sudah, pasti dia cantik
Karena dia cantik, pasti akan dilirik
Mereka pasti simapatik.
Rak,
ini tentang negeri yang di rusak!
Jumat, 25 Oktober 2013
Refleksi: Titik-titik dan sesuatu yang belum terisi
Refleksi: Titik-titik dan sesuatu yang belum terisi
Terlalu banyak hal yang kita pahami namun nyatanya tak mampu kita jalani.
Seperti banyaknya hal yang tak kita pahami namun ternyata kita lakoni.
Maka saya bertanya, haruskah kita memahami setiap apa yang kita lakukan, atau melakoni setiap apa yang kita pahami.
Ternyata, pada akhirnya saya memahami, tak semua hal harus kita pahami.
Kamis, 24 Oktober 2013
Harga
Tak ada yang berbeda antara aku, kau dan mereka
Kecuali cara kita memahami hidup
Dan darinya kita akan menentukan jalan yang akan kita tempuh
dari ia pula kita memberi nilai pada hidup
Skala nilai akan berbeda pada setiap diri kita
Dan, nilai yang kita berikan padanya jugalah yang akan menjadi ukuran diri kita dalam hidup
Maka, setiap kita yang besar dalam hidup,
Haurs memberi nilai yang besar pula pada hidup
dan beruntunglah bagi jiwa yang memaknai hidupnya
Bunga Tua
Bunga Tua
Dan gugurlah kelopak bersama daunnya
Jatuh berserak menutupi akar yang sudah goyah
Sebentar lagi batangnya pun akan rubuh
Dan dalam tanah ia menyatu bersetubuh
Kemarin ia masih mekar segar
Hidupnya tiad sukar
Ia sempat berkelakar pada kumbang yang datang melamar
Untuk sebuah persembahan, madu terakhir
Waktu kecilnya ia tak terjaga
Kadang tertindas ia pasrah
Ketika hujan ia bersenandung
Senandung tentang mendung, ungkapan yang sulit ku tebak
Mungkin jika ia hilang dalam zaman
Setidaknya ia pernah ada
Membawa persembahan pada kumbang yang tak sopan