Untuk kedua kalinya, setelah peristiwa pertama yang sudah lama sekali. Pengalaman kopi. Nikmat tapi akhirnya harus menanggung oleng karena tak tidur dua mala satu hari. Meski untuk kedua kalinya lebih singkat, hanya tak tidur malamnya saja sampai besok jam tiga. Rasanya tak perlu tiga kali untuk menjauh dari kopi, meski pun juga tak berarti putus hubungan, sesekali mungkin tak mengapa.
Dua peristiwa ini sama muasalnya, dari rasa ngantuk yang harus dilawan. Dan senjata ampuh bagi saya untuk melawan kantuk adalah dengan kopi itu. Akhirnya memang menang, tapi kemenangan terhadap kantuk ini sungguh sebuah kekalahan pula bagi saya. Kopi, senjata makan tuan.
Ngantuk sesungguhnya adalah peristiwa alamiah tubuh kita, ngantuk pada umumnya berarti isyarat bahwa kita membutuhkan tidur. Disamping ia bisa pula berarti lelah, kurang stamina, atau bosan. Dan peristiwa alamiah ini harusnya disikapi secara arif, sebagaimana mestinya, alami, tanpa rekayasa kopi.
Saya menyadari kemudian, kebiasaan kebiasaan melawan alam itu akhirnya menjadi pukulan mematikan bagi kita. Alam tak bisa kita kalahkan, alam hanya bisa kita arifkan, kearifan alam. Begitu menurut Bang Idin. Seorang pengarif alam di jakarta yang pesannya saya dapatkan di majalah pesawat. Dan kearifan kita terhadap ngantuk itu yah tidur.
Sesuatu yang melawan kodrat itu, tidak menemui apa-apa kecuali kalah. Apapun bentuk kekalahannya.
Terimakasih kopi.