Jumat, 21 Februari 2014

Kau yang Selalu Datang Membawa Gelisah

Hai, selamat malam. Kau datang lagi? Membawa apa? Setiap kali kau datang di beberapa hari lalu, selalu kau bawa gelisah, hari ini masihkah? Tak lekas juga habis gelisah itu kau bawa ya? Bisa ku pahami, ada memang, harapan kita yang tak pernah berpisah dari kepala kita. Sesekali jelas kita ingat, sesekali hanya sekelebat saja. Tapi, karena itulah pula, ditambah dengan ketidak pastiannya, harap-harap cemas, jadilah ia sebuah kegelisahan yang terus terbawa. Sampai sejauh harapan itu menemui keputusan.

Okelah, kau gelisah, wajar. Tapi tak mesti setiap gelisahmu kau tumpahkan disini. Karena itu mengusikku, sungguh, aku datang kesini, menikmati bebungaan, harumnya, rasanya tak sedap jika harus beradu dengan kegelisahan semacam kegelisahanmu itu.

Kau mau tau? Aku, dulu, juga sepertimu, tapi perlahan bisa ku atasi. Perbedaan kita pada cara mengatasi persamaan kita itu, gelisah. Aku lebih memilih untuk tidak gelisah. Itu saja. Kau pikir ini sederhana? Oh, tidak! Pikirkan saja olehmu, beratkah menurutmu dalam kegelisahan mu yang kalut itu, bisakah kau tenang? Susah bukan? Tapi susah itu tidak sama dengan tidak bisa. 

Kau hanya butuh sedikit berusaha, keluar dari ruang gelisahmu itu. Cukup. Tapi lagi, ini tak mudah. Tapi disitulah serunya, kau tahu, energi yang kau keluarkan untuk itu akan menyerap cadangan energi kegelisahanmu, perlahan energi kegelisahanmu itu berkurang, lalu habis. Tidak  benar-benar habis, karena energi kegelisahan dalam kadar yang normal itu dibutuhkan. Sebab jika takarannya pas, ia kan jadi energi pendorong yang cukup kuat. Memang, dibutuhkan kecerdasan lagi untuk soal ini. Tak ada teori bakunya, jadi tak usah ku jelaskan bagaimana. Karena pasti, akan sangat subjektif terhadap diriku sendiri. Tapi, kalau kau benar-benar butuh, boleh saja, semoga kau bisa membuatnya lebih objektif. Tapi bukan disini. Di kali lain pertemuan kita.

Galau dan gelisah itu samakah? Kalau menurutmu sama, berarti selamat, kau juga penggalau. Selamat, galau itu miliknya anak muda, yang sedang berproses untuk menjadi dewasa. Tidak tidak, bukan ku katakan kau tak dewasa, artinya kau harus menyadari, kau sedang berproses. Ini kesempatanmu. Galau itu ibarat kode, dengannya kira-kira kau akan sampai dimana. 

Dan seiring proses belajarmu itu, kau akan menemukan yang disebut dengan kedewasaan, nah disitlah kau mulai berpikir, lebih kuat untuk melawan, bukan melumpuhkan, tapi mengendalikan gelisah. Hebat bukan? Hebat karena perjalanannya tak mudah. Bagiku, sesuatu yang dikatakan hebat akhirnya itu adalah capaian yang melewati serangkaian ujian-ujian keras. Keras sampai kau hampir saja menyerah. 

Selamat berusaha. Kali lain kau datang, jangan bawa gelisah lagi. Sepakat.