Rabu, 20 November 2013

Seperti biasa, saat hari masih setengah badan

Secangkir kopi dingin, ku teguk, disusul pisang goreng kaku.
hari ini jauh berbeda, 
Maafkan aku terlambat, 
harusnya saat waktu buta aku membengunkanmu, 
menemani mu mengambil wudhu dan menjadi imammu.
Maafkan aku tanganmu berdarah, 
memotong pisang untuk sajian pagiku.
Pekan depan, mungkin sudah ada bolam menggantung, aku benci gelap
Maafkan aku, 
seharusnya pagi ini kau dapat makan ikan bakar dan sayur hijau,
Sampaikan pula ada si kucing, pagi ini taka da makanan yang bisa di bagi.
Maafkan aku harusnya ada kejutan,
Selimut biru yang ku beli di pinggir pasar 
harus ku berikan pada anak mungil di emperan toko pak Dodi
Ah. . . .!
Harusnya aku tak perlu minta maaf lagi.
Karena dalam matamu, sudah ku tahu jawabmu.
Harusnya ku berterima kasih saja. . . .
Terimakasih.
Terimakasih karena kau pahami semua.
Semoga subuh besok kita bisa bangun lebih awal.
Aku mau berdo pada-Nya.
Ada satu hal yang ingin aku minta, juga mau berterima kasih.
Kesederhanaan yang menggerakkan