Kamis, 14 November 2013

Surat

Refleksi: Sepucuk Surat untuk ia yang Dijiwa. 

Ku dengar ia akan kembali pada apa yang dulu ia janjikan kemudian tinggalkan. Akhirnya ia sadar juga setelah ku puas memakinya seperti emak memarahi anaknya lantaran menolak membeli terasi di warung ujung gang. Entah jampi apa yang berhasil menghilangkan sihir dari ubun-ubunnya. Mungkin sebuah doa dari orang-orang yang ia lupakan. Kami terlupakan dan kami menyayangi.
Ku dengar kalau kesungguhan telah menegakkan punggungya. Beban dosa terlalu membuat dirinya bungkuk. Bungkuk hingga hampir saja kepalanya tersungkur jatuh dalam lubang. Lubang hitam siap menerkamnya dan menguburnya hidup-hidup. hidup dalam ketiadaan, tiada cahaya yang ada hanya gelap dan perangkap yang memenuhi setiap jengkal lubang setan itu.
Ku dengar setiap paginya ia menangis kalau-kalau saja tadi malam ia melewatkan sebuah jamuan penting. Bukan memenuhi urusan dari sejengkal badannya. Tuhan datang menemuinya tapi ia tidur seperti mati. Hingga waktu berlalu dan ia melihat Tuhan menjauhinya. Maka ditemuilah paginya dengan sebingkisan kata, "Kau lalai".
ku dengar selepas sesalnya ia berbisik-bisik. Tak jelas apa yang ia bisikkan. Mungkin ia mengadu pada malaikat di sampingnya tentang ampunan yang mungkin masih ada. Atau ia bercerita pada setan di belakangnya tentang masa lalu yang mungkin ia rindukan. Ia bimbang dan harus memilih. Ia harus jadi malaikat atau setan.
Ku dengar malaikat itu tertawa, senyumnya terlihat manis. Sebuah putusan yang menguntungkan dirinya. Akhirnya manusia ini meniggalkan setan yang membuntuti. Di biarkan saja hingga lelah dan habis tak bersisa. Apakh malaikat bisa membawa manusia jadi sempurna?
Ku dengar sebelum tidurnya untuk malam yang kedua ia berjanji. Tak ada kesalahan yang terulang dua kali kecuali jika ia sebenar-benarnya lalai. Tidurnya tak nyenyak, tapak nyamuk pun membangunkannya, sepertiga malam penuh cinta datang jua pada akhirnya.
Ku dengar ia mengadu tentang masa lalunya yang suram buram. dan berkacalah matanya saat Tuhan datang menemuinya dengan ampunan dan cinta-Nya. Maka jadilah ia jiwa yang berbahagia dalam haru biru malam yang sepertiga.
Ku dengar ia berjanji. Dirinya berterimakasih pada Tuhannya, dan mulai saat ini ia kembali. Kembali pada jazad manusia yang merindu pada Tuhannya. Tuhan aku rindu.