Mari kita mulai, sesaat sebelum nanti kita akan memutuskan untuk melanjutkan atau berhenti atau mungkin juga pulang tanpa membawa tanda mata apapun sebagai bukti bahwa kita memang pantas untuk diberi penghargaan
Satu langkah pertama yang akan menentukan, apakah kita bisa melangkah yang ke dua kalinya untuk membuat jejak-jejak baru yang entah sampai kapan ia akan berakhir seiring dengan habisnya pasir waktu
Kita mungkin sudah terlalu lama menyadir bahwa kita seharusnya melangkah namun mungkin tak juga mampu menggerakkan kaki malas yang terus saja mematung tanpa daya karena kita telah diperdaya dengan iming-iming yang tak pasti tentang sebuah negeri dimana kita bisa mendapatkan segalanya tanpa harus ada perjuangan
Atau mungkin dari sebagian kecil dari kita sudah mulai tergerak untuk satu kali melangkah namun kembali terhenti karena telah hilang arah kemana yang akan kita tuju
Apakah kita benar-benar telah hilang dalam langkah pertama yang kita mulai ataukah sebenarnya Tuhan memerintahkan kita melangkah untuk langkah kedua ketiga dan seterusnya coba tanyakan pada hati kita jika ia masih hidup
Ataukah diantara kita uang raganya hidup meninggalkan hatinya dalam kematian sehingga kita benar-benar akan kehilangan cahaya untuk kita pakai sebagai penerang jika masih ada tenaga untuk langkah selanjutnya
Kita mungkin terlalu dalam menancapkan kaki bahkan hampir seluruh tubuh kita dalam kubangan fatamorgana yang membelenggu jiwa sehingga buaiannya yang melenakan membuat kita jadi pasangan mesra dengan ketiadaan paham bahwa kita telah teramat sadis dengan waktu
Betapa tidak kita membiarkannya habis tergerus dan tenggelam bersama dengan hilangnya setiap kesempatan yang pernah ada dan tinggallah kita dalam kesia-siaan yang membelenggu
Anehnya dalam belenggu yang mencekik kita masih bisa tersenyum seakan ia tak berniat membunuh tapi hanya sekadar mendekap sehingga kita merasa dalam kehangatan yang menjanjikan kehidupan
Apapun nanti yang akan terjadi mungkin sebagian besar dari kita akan menyalahka Tuhan dan mungkin hanya sebagian dari kita hanya meratap sementara sebagian lain menikmati jamuannya.