Sore, sedikit masih tersisa siang yang hangat. Hujan tadi membuatnya lebih romantis, penantian matahari terbenam yang menyenangkan. Waktu yang panjang, hingga malam datang, memberi ruang pada memori yang memaksa. Ah, sebuah kenangan tersisa, patut untuk dikenang sebagai pemanis senja yang memang sudah cantik. Raut wajah tempo lalu, ketika malu seringkali menghinggapi, sebuah cerita klasik remaja tak berjati diri.
Pantai. Kenapa selalu pantai latar sebuah cerita lalu yang menyenangkan? Aku protes pada ombak yang selalu menjadi kiasan cerita yang mendayu-dayu. Kata mereka ia berdesir, mejilati kaki, memanja, dan mengantarkan pada roman cinta yang manja. Ah, mereka terlalu cengeng, terbuai rayuanmu yang klise. Aku ingin mengatakan padamu, "Aku benci, pesonamu mengalahkan nelayan yang penuh cinta," tapi ku tahu mereka dan kau pasti tak mengerti. Makna cinta yang membentangkan layar perahu mereka. Maka, cukup dengarlah ketika aku bercerita.
Aku. Merindu pada sesosok yang juga tak ku kenal lagi. Telah terlalu lama ia menghilang, entah apakah ia ditelan lembah atau hanyut oleh laut yang membuatmu tetap ada untuk mereka yang memanja. Ombak, aku bercerita padamu. Suatu saat jika mereka datang hendak merasakan usapan mu, ceritakan juga pada mereka. Setelah itu, tinggalkan saja, wajah sepolosmu tak layak berada di kaki mereka. Temani aku saja mencari diri sosok itu.
Dia. Sosok yang ku yakini juga masih merindu. Seperti rindu yang kau rasakan. Aku tahu kau merindu pada hijaunya daratan diseberang sana, atau tebing batu yang mungkin juga ada. Sama besarnya rinduku. Suatu saat kita akan beranjak bersama, meninggalkan pasir putih disini. Ia sama sekali tak menjanjikan sebuah kisah yang manis. Pernah ku tulis rindu pada badan putihnya, tapi habis juga tersapu. Entah ia yang tak setia atau engkau yang serakah untuk menampung setiap cerita manusia perindu sepertiku. Ah, kau, mereka, pasir, dia memang gila. Atau akukah yang gila karena memaki?
Kau. Sulit untuk ku pahami, pesona yang kau tebarkan. Mengapa mereka selalu menemuimu dalam setiap sesi perasaan mereka. Ketika senang mereka datang, ketika sedih mereka pun bertandang. Sekadar merasakan belaianmu, atau melemparimu sebagai buah kekesalan. Aneh, sementara dirimu jemu menerima mereka, aku justru jemu tak satupun datang menemui. Realita hidup kita berbeda. Kadang ku ingin saja sepertimu. Tanpa harus banyak tahu alasan aku disini. Seperti dirimu ternyata menarik, jika mereka datang kau menyambut, mereka pergi kau tak cemberut. Ah, kau ombak dan aku bukan, dimensi dunia yang berbeda membuat dunia kita berwarna. Jika nanti titipan dalam jasad ini telah diambil, sudilah dirimu melumatku dan mengubahku jadi pasir. Kita menciptakan dialektika kehidupan yang semakin menarik.
Senja. Akhirnya mampir juga pada perbincangan kita. Entah sihir apa yang ia pakai, matahari yang siang tadi begitu congkak, berhasil ia tundukkan. tunduk berlutut di ujung langit, suatu garis yang memisahkan dua pasang cerita, langit dan bumi. Ia semakin nakal, menggoda cerita yang memang sudah kian memesona. Ternyata dari tadi ia menguping pembicaraan kita. Jika ia masih mendengar, aku ingin menitipkan cerita ini untuk sosok di seberang sana. Bukankah menjadi sebuah cerita yang lebih manis jika nanti, aku, kau, sosok itu, dan dirinya, suatu hari nanti duduk dalam pangkuan bumi dalam satu jamuan istimewa. Ah, manis itu akan terasa jua pada akhirnya, harusnya kau yakin seperti yakinnya diriku.
Matahari. Sepotong badannya telah hilang, senja berhasil membuatnya tengelam dalam pesona malam yang sebentar lagi datang. Kisahnya akan berlanjut pada rupa bulan yang bersinar samar-samar. Hari ini merelakannya pergi, ketika waktu harus memutuskan bahwa setiap kisah hari ini, harus menunggu kepastian hingga esok. Boleh jadi akhir cerita akan berbeda. Meski rupanya sama, matahari esok tak akan membawa sesuatu yang sama dengan hari ini. Maka, sebelum akhirnya ia sempurna dalam pelukan malam, selagi masih tersisa setengah badannya, akan ku tunutaskan obrolan kita kali ini.
Adzan. Hilanglah wajah manis matahari, tenggelam di bibir laut yang menelannya dalam-dalam. Semoga esok ia masih bisa lahir kembali, pada sisi yang berbeda di laut sebelah sana. Kau, maafkan aku, sejenak aku harus beranjak, Tuhan ku memanggil, bukti cinta ku dipertaruhkan kali ini. Jika Ceita ini belum tuntas, berdoalah juga, moga lepas isya aku bisa kembali. Waktu hidupku dan hidupmu ada ditangan-Nya.
Malam. Janji senja tak terpenuhi, kau harusnya menagih. Aku ingin melanjutkan penggalan kisah yang tersisa. Tentang sosok disana, dan pasir yang membuatmu bosan, atau wajah lain yang menunggu kita di sebelah laut ini. Bulan itu tak kunjung datang, kabarnya malam ini ia terlambat. Menunggu, masih merayu matahari sudi berbagi sedikit cahaya yang redup. Redup tapi cantik. Karena ternyata cantik itu tak perlu terang. Ah, kuharap kau mengerti tentang obrolan yang melayang makna ini.
Bulan. akhirnya kau datang juga setelah mebuat kami bimbang, sejenak rasa percayaku menghilang. Kini kau harus berjanji, menemani ku hingga aku benar-benar terlelap dalam dekapan malam. Dalam mimpi yang mengantarkanku ke sosok yang membuat aku tak sabar. Berbahagialah kau dengan satu bintang sahabatmu. Moga ia tetap manis di dekatmu hingga pagi esok menelan kisahmu. Sampaikan salam ku jika ku tak sempat meneminya dalam kata.
Kita. Hidup ini telah begitu berwarna. Jika pada akhirnya ia harus pudar, aku berharap kita telah menemukan kerinduan yang kita miliki. Agar, aku dan kalian semua tak mati dalam perinduan. Bagaimanapun aku harus ke seberang sana, untuk mengukir makna yang tak kan hilang.
Kalian. Tidakkah untuk terakhir kalinya, sebelum esok mencuri kebersamaan kita, atau sebelum takdir Tuhan dijatuhkan kepada kita, patutnya kita berdoa. Tuhan kita Maha Penyayang, Maha Mendengar, semoga mereka yang membaca kisah ini dapat memaknai dan memberi makna pada kehidupan.
semoga kalian dapat memaknai Hidup, Aku dan Mereka.